Dari Kebimbangan Menuju Keputusan: Perjalananku Memilih UNUSA Keperawatan
NAMA: GADIS VERINA PRAMESTI
KELOMPOK: 07 MEDULLA
Dalam hidup, ada beberapa keputusan yang terasa kecil bagi orang lain tetapi sangat besar bagi diri kita sendiri. Bagiku, salah satu momen itu terjadi setelah pengumuman SNBT keluar. Sejak awal, aku menaruh seluruh harapan dan tenaga untuk masuk ke kampus impianku: UNAIR Keperawatan. Aku membayangkan masa depan di sana memakai jas laboratorium praktikum, belajar dengan dosen-dosen hebat, dan menjadi mahasiswa keperawatan yang bangga dengan almamaternya. Aku mengorbankan waktu, tenaga, dan banyak hal untuk mempersiapkan diri. Setiap doa, setiap usaha, semuanya dibangun untuk satu tujuan: masuk UNAIR.
Namun realitas tidak selalu sejalan dengan harapan. Ketika hasil SNBT diumumkan dan aku tidak lolos, perasaanku hancur. Ada rasa kecewa yang sulit digambarkan. Bukan hanya karena gagal masuk kampus impianku, tetapi karena aku merasa kehilangan arah dan tujuan untuk masa depanku. Rasanya seperti jalan yang selama ini aku siapkan tiba-tiba tertutup. Ada rasa takut, rasa minder, bahkan sedikit penolakan untuk menerima kenyataan. Aku bertanya pada diriku berkali-kali, “Kenapa bukan aku? Apa aku tidak cukup mampu?” Padahal dalam hati aku tahu, gagal tidak selalu berarti tidak layak terkadang waktunya saja yang belum tepat. Tapi menerima hal itu tetap tidak mudah.
Ketika perasaanku mulai sedikit membaik, aku berusaha bangkit kembali dan melihat jalur lain. Kesedihan itu perlahan bergeser menjadi kebingungan baru ketika aku harus memilih kampus pengganti. Dua pilihan terbuka di depanku: UINSA dengan jurusan Gizi atau UNUSA dengan jurusan Keperawatan. Kedua pilihan sama-sama memiliki kelebihan, dan keduanya sama-sama mengarah pada dunia kesehatan yang memang sudah menjadi bidang yang ingin aku geluti. Di satu sisi, UINSA Gizi menawarkan lingkungan Islami dan suasana akademik yang nyaman. Di sisi lain, UNUSA Keperawatan memberiku kesempatan untuk tetap berada di jalur profesi yang sejak dulu aku impikan menjadi seorang perawat.
Dari sinilah permasalahanku dimulai. Aku takut membuat pilihan yang salah. Setelah merasakan pahitnya gagal di UNAIR, aku menjadi lebih sensitif dalam mengambil keputusan. Ada rasa trauma tersendiri seolah aku tidak ingin salah lagi dan merasakan luka yang sama. Setiap kali memikirkan dua kampus dan dua jurusan itu, aku seperti ditarik ke dua arah yang sama kuat. Kebimbangan membuatku kurang fokus, dan aku merasa tekanan semakin besar ketika banyak orang di sekitarku ikut memberi saran. Ada yang mendorong ke UINSA, ada yang menilai masa depan lebih cerah di UNUSA. Maksud mereka baik, tetapi tanpa sadar, banyaknya pendapat justru membuat suaraku sendiri menghilang. Aku bingung harus mendengarkan siapa.
Untuk keluar dari keadaan itu, aku memutuskan untuk mengevaluasi semuanya secara tenang. Langkah pertama yang aku ambil adalah menuliskan perbandingan secara objektif. Aku membuat tabel berisi kelebihan dan kekurangan kedua pilihan mulai dari biaya, prospek karier, jarak, fasilitas, hingga minat dan kesiapan diriku. Melalui proses itu, pikiranku yang sebelumnya kacau perlahan lebih teratur. Aku mulai melihat bahwa memilih kampus bukan sekadar ikut kata orang atau menghindari penyesalan, tetapi tentang sejauh mana kampus itu sesuai dengan tujuan jangka panjangku.
Setelah itu, aku mencoba mendengarkan suara hatiku sendiri. Aku bertanya pada diriku secara jujur: profesi apa yang benar-benar aku inginkan untuk masa depanku? Apakah aku ingin menjadi ahli gizi atau menjadi seorang perawat? Di titik ini, hatiku sebenarnya sudah bicara sejak awal aku ingin menjadi perawat. Aku ingin bekerja langsung dengan pasien, ingin terjun ke dunia medis dan pelayanan kesehatan. Dan ketika aku menyadari hal itu, jawabannya menjadi lebih jelas: UNUSA Keperawatan adalah pilihan terbaik untukku saat ini.
Namun pemilihan ini bukan berarti aku mengubur mimpiku tentang UNAIR. Aku justru mulai melihat keputusan ini sebagai langkah baru, bukan akhir dari impian. Aku bisa menjalani kuliah di UNUSA dengan serius, sambil tetap membuka peluang untuk mencoba UTBK lagi di tahun depan jika aku masih ingin mengejar UNAIR. Dengan cara itu, aku tetap bergerak maju, bukan berhenti di tempat hanya karena gagal sekali.
Kini aku menjalani pilihanku dengan hati yang lebih tenang. Aku belajar bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh satu kampus atau satu kegagalan, tetapi oleh usaha dan ketekunan untuk terus melangkah. Yang berubah hanya tempat aku memulai, bukan tujuan hidupku. Aku percaya, selama aku berusaha menjadi versi terbaik dari diriku, jalan menuju masa depan yang aku impikan pasti akan terbuka tepat pada waktunya.
Komentar
Posting Komentar